JAKARTA, kadin.co – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, para pengusaha di daerah harus lebih masif dilibatkan dalam program-program prioritas pemerintah demi menciptakan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia.
Itu sebabnya, menurut Anindya, para pengusaha yang menyertai kunjungan Presiden Prabowo Subdianto ke India, pekan lalu, bukan cuma pengurus Kadin Pusat, tapi juga Kadin Daerah. Tujuannya tiada lain agar para pengusaha daerah terlibat aktif dalam program-program pemerintah. Dengan bebegitu pula, kue ekonomi dapat dinikmati secara merata hingga daerah-daerah.
“Yang hadir di sini bukan hanya dari Kadin Pusat. Ada juga teman-teman dari daerah. Mereka ke sini bukan untuk jalan-jalan. Mereka sangat fokus ke kolaborasi. Teman-teman datang ke pabrik susu, pabrik motor, food estate, hospital, dan lain-lain,” kata Anindya usai menyertai kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di New Delhi, India, Senin (27/1/2025).

Anindya Bakrie menjelaskan, seperti Indonesia, orientasi program pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah India adalah pemerataan. “Di sini ada 28 negara bagian, Indonesia juga kan punya 38 provinsi. Di India, pertumbuhan ekonomi tidak saja terlihat di pusat, seperti di New Delhi atau Mumbay. Di mana-mana ada pertumbuhan,” ujar dia.
Alhasil, menurut Anindya, program ekonomi India setali tiga uang dengan Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bisa membuat perbandingan, bahkan belajar dari India, mengenai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan mengatasi kesenjangan.
“Kita sama dengan India, program pertumbuhan ekonomi kita difokuskan ke pemerataan, ke daerah,” tutur dia.
Anindya Bakrie mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pembangunan rumah murah 3 juta unit per tahun, serta program swasembada pangan dan energi. Program-program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran itu bukan saja ditujukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, menyediakan papan murah bagi rakyat, dan menciptakan ketahanan nasional dari sisi pangan dan energi.

“Program-program itu juga ditujukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan mengatasi kesenjangan melalui pemberdayaan ekonomi daerah,” tandas Anindya.
Perdagangan RI-India US$ 120 Miliar
Anindya Bakrie juga mengemukakan, Kadin menargetkan nilai perdagangan Indonesia dengan India menembus US$ 120 miliar dalam 10 tahun ke depan dibanding US$ 24 miliar saat ini. Bersama pemerintah, Kadin akan memastikan neraca perdagangan dengan India terus membukukan surplus bagi Indonesia.
“Nilai perdagangan kita dengan India kan saat ini sekitar US$ 24,1 miliar (posisi Januari-November 2024, red). Kita ekspor ke India US$ 18,9 miliar, India ekspor ke kita US$ 5,2 miliar. Jadi, kita surplus sekitar US$ 13,7 miliar,” kata dia.
Menurut Ketum Kadin Anindya, para pengusaha nasional, khususnya anggota Kadin, harus ikut mengawal neraca perdagangan dengan India agar tetap surplus untuk Indonesia. Dengan menjaga surplus perdagangan, berarti para pengusaha turut menjaga fundamental dan pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk memelihara cadangan devisa dan menjaga nilai tukar rupiah.

“Yang penting, Kadin ingin agar angka perdagangan RI-India bisa terus berkembang ke US$ 50 miliar, bahkan US$ 120 miliar dalam 10 tahun,” tegas dia.
Anin menambahkan, guna memastikan perdagangan dengan India terus meningkat dengan posisi surplus untuk Indonesia, banyak hal yang harus dikerjakan para pengusaha dan pemerintah, seperti meningkatkan daya saing produk dan membuat regulasi yang mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi dunia usaha.
“Masing-masing harus mengerjakan PR. Bukan cuma dalam soal hambatan tarif, namun juga hambatan nontarif (non-tariff barrier). Misalnya kuota, perizinan, itu mesti dijaga betul,” ujar dia.
Anindya menjelaskan, agar perdagangan RI-India meningkat, Kadin akan terus berkoordinasi dengan Konfederasi Industri India (CII) dan perusahaan-perusahaan di Negeri Anak Benua itu.
“Kadin akan terus berkoordinasi dengan CII dan perusahaan-perusahaan India, bukan hanya di bidang perdagangan, tapi juga investasi. Tujuannya agar mereka investasi di Indonesia,” kata Anin.
Forum CEO India-Indonesia yang dipimpin Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie dan Ketua CII, Ajay S Shriram menggelar pertemuan di New Delhi, India, Sabtu (25/1/2025) di sela-sela kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India.
Usai pertemuan tersebut, Forum CEO India-Indonesia merilis pernyataan bersama tentang perlunya kedua negara memperkuat kerja sama bisnis. Anindya Bakrie bersama mitranya, Ajay S Shriram kemudian menyerahkan dokumen hasil pertemuan Forum CEO Indonesia-India kepada Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi.

Dokumen hasil pertemuan Forum CEO Indonesia-India diterima Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono dan Menlu India, Subrahmanyam Jaishankar. Dokumen diserahkan sebelum Prabowo dan Modi menyampaikan pernyataan bersama seusai pertemuan bilateral di Hyderabad House, New Delhi, Sabtu (25/1/2025).
Pertemuan Forum CEO tersebut merupakan yang ke-3 kalinya dihelat para pengusaha kedua negara. Forum CEO India-Indonesia digelar CII dan Kadin Indonesia yang masing-masing dipimpin Sanjiv Puri dan Anindya Bakrie. Forum ini dihadiri 50 CEO dari berbagai badan usaha terkemuka, terdiri atas 25 dari India dan 25 dari Indonesia.
Mereka beroperasi di 6 sektor bisnis, yaitu perawatan kesehatan, pangan dan pertanian, manufaktur, energi, teknologi, dan rumah murah. Setiap sektor diwakili masing-masing 5 CEO India dan Indonesia.
Anindya Bakrie mengungkapkan, Kadin Indonesia akan membentuk Project Management Office (PMO) untuk menindaklanjuti hasil pertemuan Forum CEO India-Indonesia di New Delhi.

Menurut Anindya, komunikasi yang terjalin antara pengusaha India dan Indonesia berlangsung sangat baik. Kedua pihak saling bertukar informasi mengenai kondisi bisnis di masing-masing negara. Itu membuka jalan bagi para pengusaha India dan Indonesia untuk menjalin kerja sama yang lebih erat.
“Kunjungan Kadin Indonesia ke India untuk menyertai lawatan Bapak Presiden Prabowo secara umum sukses, baik dari sisi pemerintah, maupun dari sisi pengusaha,” ucap dia.
Dia mengemukakan, berkat kunjungan itu, hubungan baik yang telah terbina antara Presiden Prabowo dan PM Narendra Modi berlanjut dan makin erat. “Hal itu akan menciptakan iklim yang sehat di bidang perdagangan dan investasi kedua negara,” tutur dia.
Selain itu, kata Anindya, pertemuan 25 CEO dari Indonesia dengan 25 CEO dari India dalam Forum CEO India-Indonesia menghasilkan kolaborasi yang produktif. Kami sepakat menjalin kerja sama yang fokus ke sektor perawatan kesehatan, pangan dan pertanian, manufaktur, energi, teknologi, dan rumah murah,” papar Anindya.

Indonesia dan India menyepakati kerja sama di berbagai bidang yang dituangkan dalam 5 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). Presiden Prabowo dan PM India, Narendra Modi menyaksikan langsung pertukaran MoU tersebut seusai pertemuan bilateral kedua pemimpin negara di Hyderabad House, New Delhi, Sabtu (25/1/2025).
Ke-5 MoU yang ditandatangani Indonesia dan India yaitu:
- Memorandum Saling Pengertian tentang Kerja Sama Kesehatan antara Kementerian Kesehatan Indonesia dengan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Republik India,
- Memorandum Saling Pengertian Antara Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia dan Komisi Pharmacopoeia untuk Obat–obatan India dan Homoeopati Kementerian Ayush Republik India dalam Kerja Sama di Bidang Pemastian Mutu Obat Tradisional,
- Memorandum Saling Pengertian antara Kementerian Komunikasi Dan Digital Republik Indonesia dan Kementerian Elektronik Dan Teknologi Informasi Republik India tentang Kerja Sama dalam bidang Pengembangan Digital,
- Memorandum Saling pengertian antara Badan Keamanan Laut Republik Indonesia dan Penjaga Pantai tentang Kerja Sama Keselamatan dan Keamanan Maritim, dan
- Program Pertukaran Budaya antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Kebudayaan Republik India Periode 2025 – 2028.
Ke-5 MoU itu belum termasuk kesepakatan tentang pembangunan rumah murah 3 juta unit per tahun yang dicanangkan Presiden Prabowo, di mana para pengusaha India berminat terlibat dalam program tersebut. ***